Maaf.

aaaaaa

Maaf. Aku berucap. Untuk perihal yang disangkalkan oleh pikir yang berbeda arah menuju kanan dan kiri bersimpangan tak beriringan. Aku meminta. Untuk perihal yang aku harusnya tahu bahwa itu yang kau mau. Aku mengadah. Untuk menerima apa yang harusnya aku dapatkan dari kesalahan yang aku lakukan. Untuk perihal yang ganjil-ganjil; yang disembunyikan oleh perasaan masing-masing. Kita; adalah sisa doa yang terselamatkan waktu sampai nanti–bahagia bertemu.

Maaf. Di sudut malam yang mencengkam, aku minta maaf. Meminta kepadamu wahai yang sedang memendam apa yang membuat pipimu memerah. Hal yang membuat matamu menerka seolah ada mangsa. Sesuatu yang membuatku tidak tenang. Di kamar kosan.

Maaf. Tidak ada yang bisa diperbuat bibir kecuali maaf. Tidak ada yang bisa dilakukan kata kecuali menuju pada engkau yang dibanjiri amarah.

Maaf. Kataku tidak manis. Aku sedang tidak konsen menulis dengan keadaan hati menangis.

Saat Kita Terlelap

Aku tidak akan melupa menadah bagaimana rasa dari malam yang luka yang di antara kita. Tidak ada yang lebih dingin dari lengan kita yang tak saling berpelukan. Ketiadaan yang membuat rindu semakin lama-semakin tak ditemukan membuat ingatan berantakan.

Saat kita lelap, melupakan apa yang baru saja terjadi, untuk rindu atau semacam penyakit yang susah untuk dijelaskan. Kita berurusan serius dengan membohongi perasaan masing-masing untuk mencoba menghalangi satu-sama-lain masuk ke pori-pori rindu yang kerap kali selalu membisu namun bisa-bisa membuat kita mati tak berpacu.

Mungkin menyimpan waktu tidak akan lebih baik daripada saat kau meluangkan rindumu untuk jatuh pada kesakitan yang bisa membuatmu tak tidur semalaman.

images (8)

Saat kita terlelap nanti, semoga tidak ada yang saling menyakiti, itupun aku, kamu atau hal lain yang belum kita selesaikan dengan sungguh-sungguh. Untuk yang akan kita jelajahi di malam ini, di atas ranjang yang berdebar desah tak karuan. Aku memanggil namamu meski kau tak sadar. Tapi kau (mungkin) mendengar.

Saat nanti, ketika pagi sudah lahir kembali, aku ingin saja; kau tak lupa. Untuk mengingat seberapa lelap kita ditiduri kegelisahan yang semalam baru saja kita selesaikan.

Bismillah…..

Saat, kita membuka mata, semoga peluk masih meraba, bibir masih memberi cium pada pipi yang masih membekas merah-merahnya.

Mungkin nanti ketika waktu tak banyak untuk bertemu, salah satu cara menyelesaikan hanya dengan merabamu dengan doa-doaku.

Memeluk Tiga Puluh

Ternyata sudah satu perayaan bulan, Sayang.

Aku tidak habis pikir, baru saja terasa sebentar tenryata sudah memakan rinduku berjam-jam. Hari-hariku ternyata terasa begitu cepat saat bersamamu kecuali ketiadaan itu.

Aku tidak dapat menghirup napas dengan lega ketika kau bilang cinta, mengutarakan segala isi daripada yang kurasa pula. Tapi hati bisa tenang dengan sedikit kata-kata yang membuat bibir menyimpulkan senyum manisnya. Tidak terasa secangkir kopi yang menemaniku dalam hal waktu ternyata sudah bercerita selama satu bulan. Menemani ingatanku tentang kamu saat malam-pagi menjelang. Bahkan tawamu masih membekas di mata saat kau bercengkerama denganku di teras pun di meja yang kita selalu tak lupa ada di sana setiap kali makan bersama.

“Semoga kita tetap tak lelah dalam meminjam hati masing-masing untuk menjadi teman diri.”

Belum juga masalah jarak selesai, rindu sudah tak dapat mengelak. pelukku mencoba untuk menjagamu di setiap kau bergerak. Sesekali aku hanya bisa menjangkaumu dengan doa-doa yang menjamak.

Nissa,

Bagaimana aku harus bercerita tentang satu bulan kita? Tentang perihal yang kita lewati liku-liku jalan itu. Sayap-sayap rindu mulai tumbuh membesar, dengan kau pusat dada yang gemetar. Semoga kita lekas dewasa dengan ini, memahami jarak-rindu-waktu menjadi versoalan yang harus kita selesaikan dengan baik-baik.

Aku tidak yakin dengan apa yang akan terjadi dengan yang akan datang nanti, kita. Semoga jarak tidak bertambah parah.

Tanganku diam-diam liar menjelajah-memelukmu. Aku mencoba memberi kebahagiaan yang hanya bisa kau rasakan. Saat bibir tak berkata-kata, mata hanya bisa saling berkaca; aku-kau dengan senyum yang merona menghajar pipi hingga memerah. Terkadang waktu belum juga mengerti, bagaimana kita menikmati. Lalu, bagaimana dengan kita sendiri?

“Aku ingin tersesat, dimana kau adalah satu tujuan daripada tempat.”

Selamat Nis, kau berhasil membuatku jatuh pada tiga puluh.

Tertanda,

Laki-laki yang memelukmu di tiga puluh

Yang Disampaikan Sepuluh Pagi

Membalas pesanmu aku sudah malas, sudah jelas, aku tak mau lagi memperjelas. Aku meminta maaf, padahal aku yang harusnya menerima semua yang telah aku ucapkan itu tapi berputar balik, aku yang harus mengeluarkan kata itu, sebab lidahku sendiri melucuti hati bila aku tak melakukannya.

Katup-katup mata mulai mengecil, tak mampu membaca pesan yang membuat diri harus menerima kenyataan pahit yang harus rela aku paksa untuk menerimanya.

Aku membaca satu pesan masuk lini masaku, tapi maaf aku tak bisa memberi tahu kepada kalian apa isi pesan itu. Sebuah pesan yang sakral untuk bisa disebar-luaskan.

Hari ini aku berusaha untuk mengingat kembali apa yang sebenarnya terjadi, apa-apa yang membuatku tak tenang akhir-akhir minggu ini. Sembari menyesap kopi di cangkir yang berada tevat di sebelahku. Ada yang tak bisa dijelaskan, perihal marahmu, egoku dan kawan-kawannya. Aku……..

Iya.

Malam ini tidak ada kata yang banyak untukmu, aku hanya ingin menulis.

Terima kasih, terima kasih sudah mau menerima apa yang aku beri. Terima kasih karena sudah menjadi bagian dari jalan cerita hidup yang serumit akar yang menjalar.

Selamat malam kau yang di ujung pikiran.

Kau yang Datang di Sepotong Malam

Memaknai Sabtu malam, aku ialah sosok sendiri yang mencari seorang yang datang tanpa apa-apa untuk merayakan kesepian. Kau datang dengan tangan kosong, tidak membawa sebakul makanan, tanganmu hanya penuh dengan segala harap untuk menemani aku kala itu. Matamu bercerita seolah aku pemeran utama di ruangan yang redup. Bibirmu berbicara desah mengeluarkan kata yang tak akan aku mampu untuk membungkam mulutku sendiri.

Definisi malam saat itu adalah, ketegangan, semua mendadak berguncang; dadamu yang menempel di dadaku. Aku ingat–dada yang lapang saat pertama kali kau menjatuhkannya pada dada yang menjadi tempat paling nyaman saat itu; aku.

Sepotong malam itu, sangat singkat saat waktu bersamamu, rasanya seperti Tuhan tak rela jika aku berlama-lama dengan kau di ruangan yang masih menyimpan bekas aroma kita berdua.

Aku hanya berdoa, menyebut namamu setiap lima waktu, semoga kejadian itu masih bisa terjadi, sekalipun itu kau tak menghendaki.

Untuk yang merayakan sabtu malamku.

#pelukmuakurindukansetiapwaktu