Raden Ajeng Kartini

Raden Kartini

 

Ajeng, di masa yang gelap engkau bangun

Menyulap sendiri lampu menjadi tungku

Cahaya sendiri sepertinya masih terlelap

Enggan memberi tahu keberadaannya

 

Ajeng, di masa pembangunan engkau turun

Tujuan hanya satu arah pandang

Kelopak menyorot enggan purun

Sampah sudah membudak di tusuk pedang

 

Ajeng, di depan kau sudah terbitkan

Berkobar, tak sebentar

Dan api sudah bahagia menjadi abu

Kau dalam serbuk-sebuk kelabu

 

Ajeng, di belakangmu sebuah belati menusuk tajam

Memaksamu harus berjalan

Tergores, kesakitan kau tetap tahan

Sebentar, satu langkah kau sampai tujuan

 

Ajeng, di kemerdekaan zaman kau pulang

Bunga sudah kembali tertawa

Burung sudah tak lagi risau

Sebab terang mulai berkicau

Cinta, Jarak Terasa Dekat (Part 1)

Surakarta, 14 Maret 2014
Selamat pagi, ucapan tertuju pada mentari dan embun-embun yang menempel di ruas jendela, aku menyekanya. Detik ke 50 dari pukul 4 aku terbangun. Kuambil gemercik air untuk sujud pada shubuh. Sebelumnya, aku tak tahu ini hari apa, tak tahu hari ini ada apa dan bagaimana. Ah, kuteruskan wudhuku sampai kudirikan dua rakaatku. Dalam ruas jari ke dua puluh tiba-tiba ingatan pulang, ia berhasil menemukan kenangan dan membuat pagi langsung berantakan. Pyar! Pecah! Suara retakan hati yang terlapas dari dada kiri.Sudah hampir satu tahun kau tak kembali, tiba-tiba kau mengetuk pikiranku lagi, tanpa permisi dan aku benci.

 
—–September 20, 2013—–

Malam itu sekitar pukul delapan malam, handphone sedang asik berbalas kata, tentu sama seorang yang aku cinta namun hanya bisa kupendam saja.

“Hei Na, apa kabar? Gimana kesehatanmu?” sapaku

“Baik Wan, aku ya beginilah. Tapi udah mendingan kok.” Cetusnya

dan percakapan berlanjut, banyak sekali yang kita bicarakan sampai sesekali membahas pasangan. Duh Gusti, tiba-tiba ia bertanya padaku

“Kamu perhatian banget sih sama aku? Kenapa?”

Yah, hati tiba-tiba gemetar “dag dig dug” dalam hati bicara, jujur atau bohong ya. Ah mungkin ini saatnya, saat yang Tuhan pilihkan untukku dan untuk bahagianya mungkin. Lalu, aku membalas dengan tulisan panjang lebar yang intinya, aku suka sama dia sejak dia pacaran sama temen aku. Tersentak, melihat balasanku, ia kaget dan tak percaya. Mungkin bahagia atau mungkin tak suka. Entahlah….Selang beberapa menit, ada sms masuk di handphoneku.

“Maaf, kita sahabatan aja, mungkin ini yang terbaik”

Tubuh tiba-tiba lesu, lemas dan hanya bisa kesal kecewa. Tapi buat apa? itu kan hak dia.aku diamkan handphoneku beberapa menit, belum sempat membalas ada sms masuk dari dia lagi, dan kali ini aku sungguh tak percaya

“Hehehe, aku mau jadi pacar kamu. Serius.”

Astaga…Seketika tubuh yang lesu kembali semangat dna hati senang berbunga-bunga. AKhirnya malam itu kita jadian…..tapi LDR-an ya. :)))

Iya, dia di Jakarta dan aku di Surakarta. Ah tak apa jarak bukan penghalang untuk hubungan justru itu yang mendekatkan.Pacaran lewat dunia maya, sms, telpon. Ternyata mengasyikan meski juga kadang memboankan. Tapi hati masih cinta dan tetap.
Singkat cerita, Desember 7. Ia tiba-tiba tak ada kabar. Aku sms tak ada balasan, aku telepon tak diangkat, aku lihat facebooknya dia udah gak bikin status lagi. Aku bingung, khawatir dan cemas. Terpikir sekilas, apa dia sakitnya kambuh lagi. Aku hanya bisa berdoa semoga semua baik-baik saja, semua dalam perlindungan-Nya. Malamnya kisaran jam tujuh, ada sms tak dari nomor tak dikenal

“Hai wan, ini aku Dani temennya pacarmu. Kamu jangan marah ya sama dia, dia gak ngabarin kamu karena dia seang kambuh sakitnya”

Benar saja dugaanku, hati tambah cemas rasanya ingin terbang ke sana dan menjenguknya sekalipun hanya beberapa detik. Namun, aku tak bisa karena masalah biaya.

Dari sini, Na. Aku kirim cinta lewat doa, semoga sampai hatimu dan lekas sembuh ya. Tiap ahri doa dan doa makananku untuk dia yang etrbaring lemah di ranjang tak seempuk kamarnya. Selalu meminta, untuknya smeoga diberi kesembuhan dan kita kelak dapat merajut pertemuan. Dalam hati aku takut, takut jika kanker itu tiba-tiba membawa maut dan ahhhhh buyar sudah pikiranku! Sudah lelah dan ingin tidur, smeoga saja bisa menyapamu di dalamnya nanti.

Desember 27, 2013. Pukul 18.00 kala senja berpulan dan rindu berdatangan….

 

Rengekan Rindu

Rengekan Rindu

 

Kau tak akan tahu tentang cintaku

Ia dibudakkan oleh rindu yang tak jenuh

Meriuh-riuh

Dan kemerdekaan temu diperjuangkan berkobar menerjang waktu

Juga kau tak mengenal kesedihan

Aku sembunyikan ia di dalam belati tajam

Sebab tak ingin ku tusuk juga pada hatimu yang telah terajang

Kepergian adalah bayangan yang melumpuhkan ingatan

Serta rindu bisa racun yang mengendap di pikirku

Begitulah

Aku tak pernah lelah

 

 

 

Apa Neraka Tempat Abadi Kita?

Entah….

Musim itu masih menghuni di hati
Musim hujan yang membasahi segala ketidakterimaan ini
Di sungai, di sana sudah tak bisa menampung anak-anak sunyi
Mungkin, ia sedang dikekalkan nan abadi
Yang dinding-dinding di bangunkan
Pembatas atau sekedar penegak cinta keyakinan
Tak tahu dan hanya dalam bait kudoakan
Perbedaan yang menyatukan atau hanya untuk memisahkan, entahlah

Abu-abu di lubukku, di relung rindu yang mengambang waktu
Abu-abu pada hati yang sedang dilanda kelaparan temu
Kamu, sepenggal dari kata yang ku mau
Keyakinan ini, tak sadarkah ia dengan sebuah pengorbanan?
Apa hanya persamaaan yang ia anjurkan?
Apa beda selalu dipermainkan?
Persatuan ini hanya setan untuknya yang selalu dikutuk kedzoliman

Aku merenung…
Kabut-kabut dosa yang sudah tercipta
Embun-embun setia yang sudah binasa
Selanjutnya, apa yang harus kita korbankan?
Cinta atau Agama?
Lantas, apakah bau-bau surga masih tercium untuk kita, kelak?
Atau mungkin aroma neraka yang menjawil kita, nantinya?
Mungkin…
Neraka juga tak mau menerima
Memasukkan kita pada panas yang cinta kita lebih dikobarkan di dalamnya

Orang-orang bernyaring kata
Aku tak tahu selain harus berdungu
Bersama setiamu yang kupegang erat dalam cinta
Panas hawa yang terasakan
Api yang mengobor dan menyalakan kesedihan

Ketahuilah sayang
Lima kali dalam waktuku
Jari-jari tak pernah berhenti bergeming
Memanjat ampun dari-Nya pemilik cinta yang tak kering

Tuhan,
Wajah cinta itu tak bisa kuhindarkan
Rangkulannya yang mengikat, menjerat
Langkahnya yang bertamu kerinduan
Tak tahan sudah, ingin ku masuki lorong janji-janjiku
Maaf, Tuhan….

Sekali lagi,
Beda ini, tak bermakna lagi
Lihatlah kaum sebelumku
Nabi yang mau mengikhlaskan untuk kebersamaan
Hiraukan dalam ayat-ayat-Mu sebentar saja
Tuhan…

Terakhir,
Satukan, dua insan Tuhan
Layaknya Hawa dan Adam yang dulu kau kutuk
Apa perlu kujelmakan kuldi untuk cintanya?
Masihkah suratmu menyiratkan kedamaian?
Maaf, aku sudah lancang
Tuhan….

 

TERAKHIR UNTUK AWAL

Selamat hari terakhir untuk aku yang sempat sibuk dengan proyek #30HariMenulisSuratCinta. Ya, 30 hari sudah selesai hari ini, selamat tinggal tukang pos cintaku @ikavuje.

Ini adalah akhir untuk awal; proyekku sudah selesai dan sekarang aku harus mulai untuk berjuang.

Selamat hari berjuang untuk aku, kuharap semua berhasil dari sini. Jadi begini, senin 3 maret 2014 adalah awal untukku berjuang, berjuang untuk memerdekakan diri dari bangku-bangku ruang yang tersinggahi selama tiga tahun. Aku tahu aku pasti bisa, aku pasti tidak akan kalah sebelum berjuang. Aku yakin dan percaya!

Ya tentu bedoa kepadaMu tak kan pernah melupa, selalu dan telah menjadi rutinitas dalam hidupku. Tuhan wahyukan kepadaku tentang semua doaku. Amiin.

Semoga aku bis menjadi aku yang sukses dengan segala usahaku.

 

 

 

Tertanda,

 

Cermin diriku

Hanya Kata

Selamat tanggal satu. Satu pada tiga untuk maret.

Selamat senja untukmu pembaca surat ini yang mungkin sudah bahagia. Selamat menjinggakan rindu bersama dia yang baru. Apa kabarmu? sehat selalu ya, kamu.

Sebelumnya aku minta maaf, jika aku telah hadir kembali pada kehidupanmu. Aku tahu mungkin kau tak menginginnya, maafkanlah sayang. Ini hanya kata bukan sosok yang selalu kau benci dengan sakit hati yang terberi.

Maaf sayang. Aku tak akan banyak bicara pada surat ini. Aku hanya ingin memastikan jika kau baik-baik saja disana. Semoga, ya semoga.

Hanya kata, ini yang bisa kuteteskan pada lembaran maya ini. Selamat senja, sayang. Rasaku padamu masih sama seperti dulu; sayang dan kuharap kau masih mau lagi untuk kembali pulang pada rumah yang kau tinggal pergi.

 

 

Tertanda,

 

Penikmat Rindu

Kepada Yth

Kepada yth. @dissavian_yudha

Sebelumnya aku tak tahu harus menulis apa, tuan yang terhormat.

Hujan, hari ini telah datang. Barangkali mereka tahu jika kita perlu untuk sebentar teduh di ruang ini.

Kamis, 27 Februari 2014. Pukul 15.15 WIB. Kita sedang berjuang, bukan memperebutkan kemerdekaan, hanya sepucuk lembaran surat yang kita harapkan. Ya aku juga begitu, sama sepertimu, tuan.

Kau penggemar yang biru segala yang berwarna tentang itu kau menyukainya. Chelsea, itu football club kesukaanmu bukan? haha. Aku kurang tahu untuk masalah perbolaan maka tak perlu itu untuk kuceritakan. Kuhanya menuliskan tentang salam pertemanan yang kita jalani tiga tahun ini.

Katamu, kau ingin ke Korea setelah lulus nanti. Ya aku hanya bisa membantumu lewat lantunan doa saja, maaf sebelumnya.

Baiklah, hanya itu.Kelak nanti kita akan memakamkan pertemanan kita pada surga kerinduan. Dan semoga jalan-jalan pertemuan selalu menerbakan aromanya di nisan.

Tertanda,

Penikmat Kopi