Gerimis

Aku tidak akan menulis panjang, lebar–luas surat ini. Sayang, di jalanan rintikan basah mengguyur kita berdua, di atas kepala-kepala manusia. Kita menikmati suasana malam itu dengan basah-basahan, terjebak guyuran yang dingin. Aku menjagamu dari depan, kau di belakang, hati kita deg-degan.

Maaf, malam itu kau kedinginan Sayang. Aku tega mengajakmu berkeliyaran malam-malam.

Surat ini hanya sebentar tak kan lama, terima kasih kau mau menjadi rumah untukku berteduh pulang dengan segala apa-apa yang kau jamukan. Kau, mau menjadi rebahan rindu yang acap kali mengamuk jika tak kau belai dengan cintamu.

Sayang, pada kamu, aku menjatuhkan hati dan itu tidak menjadi hal yang aku sesali.

Tertanda,

aku–di malam gerimis itu.

Perihal Malam dan Ketakutan

kerudung-malam1

Kelap-kelap sunyi tak henti-hentinya berdering di kepalaku, pada jarum jam yang berdetak dari sisi ke sisi masih setia memutar waktu, sekalipun itu tak kau mau, atau juga tentang jarak yang membuat sekat untuk kita saling memeluk buih-buih rindu, yang kau cipta sendiri lewat doa-doamu untukku, selama kau masih ingini hal-hal yang menggenapi perasaanmu.

Semoga kau tabah. Tidak merasa keluh-kesah-lemah. Sayang.

Dalam suatu arti yang tidak tahu memasti, perihal yang disangkalkaan selalu menjadi hal-hal yang mengganjal, di relung pikir yang setiap waktu selalu berdzikir. Aku berlarian menuju suatu celah-kosong yang tak tahu apa itu dinamakan, dimana rinduku dimakamkan. Kemana setiap pikir melaju, rindu selalu ikut memacu. Bagaimana caranya aku tinggal tetap ia selalu menjadi tanggal–yang paling aku mungkin juga kau benci.

Malam masih menjadi musim yang menakutkan, Sayang. Kataku, dimana setiap musim yang ada aku lebih memilih untuk mati daripada menapakkan kaki di musim yang aku benci. Tapi senja sudah memutuskan urat nadinya untuk memberikan nyawanya pada musim ini, tegakah kita untuk mencuri nyawanya? Atau membunuh diri. Setiap jam-menit-detik masih berkesan, hal yang saling berpelukan, meminjamkan bahunya pada kesepian, tapi aku sendiri tak tahu kepada siapa aku harus bersandarkan.

Kulum sunyi dan lumat ia dengan segala kesal yang mendalam, ketakutan yang kurasakan. Hanya beberapa detik yang mencekik, mungkin bisa saja aku mati di saat itu juga. Geram dengan segala suasana yang mencekam. Doa-doaku semoga bisa menyelamatkan sampai aku tak tenggelam.

Kau tahu? Sebaik-baik menenangkan adalah lewat lantunan doa tengah malam. Tidak ada yang dicemaskan kecuali pagi esok yang masih mencadi misteri untuk dibuka usai mimpi-mimpi nanti.

Di mana, Sayang?

Katamu ada tempat paling teduh, untuk menidurkan segala keluh. Sebuah rumah dimana aku ingini ada tiang-tiang yang tabah yang mampu menompang segala peluh yang kesah. Segala keberanian ada dalam bayangan yang kataku itu menakutkan, saat kau menyadari kau sendiri, memakan sisa-sisa sunyi.

Aku ingin tidur, sejenak melepas penat dada yang mendekur, aku bersyukur. Rebah di atas kasur.

Barangkali aku hana perlu malam, ketakutan untuk kau pulang. Merindukan dimana lengan menjadi hal indah untuk merayakan kesepian. Dada menjadi halaman untuk mengingat mengapa kaki harus menginjakkan diri di sini. Seperti api yang mengapa harus ada ketika kau butuh kehangatan tapi kau tak tahu apa yang menjadi alasan.

Kau, pulanglah Sayang. Banyak cerita kita yang ahrus diselesaikan. Sepotong malam dan secuil ketakutan menggenggam kepalaku. Kau tahu.

Biarkan saja, sebentar lagi pagi juga datang, aku harap kau tidak melupa bagaimana cara untuk kembali, menuju lengan yang sedang membentang.

Sayang, perihal malam dan ketakutan, aku buang. Sebentar lagi (aku harap) sebuah cahaya akan menerangkan.

Kepergianmu; Beri Tahu Aku Harus Kemana?

langkah-dalam-kehidupan

Sore menuju senja, tampak lebih sedikit cepat dari biasanya. Seperti ada yang bergegas ingin segera berlalu–pergi dari suatu tempat ke tempat lain. Seolah ada yang ingin disampaikan dari keelokan sinarnya kepada manusia-manusia yang sedang merasa apa, apa jatuh cinta. Burung-burung camar berkeliyaran di orange-jingga saat itu. Mencari-cari dahan-dahan yang tepat untuk me’nyaman’kan tubuh-tubuh lelah mereka. Angin sepoi-sepoi mengetuk daun telinga seolah ingin berbicara kepada kita.

Duduk di bangku sudut kota, di taman yang menghamparkan segala isinya–bunga-bunga yang mulai perlahan menundukkan mahkotanya.Di sana, kita sedang menikmati kemesraan berdua, hanya–saja. Kita tak ingin menatap satu sama lain, percayakah kau itu? Menetapkan sbeuah hati pada suatu pilihan memang tak semudah meletakkan receh pada sembarang tempat–bergeletakan begitu saja. Susah payah mencari suatu wadah yang bisa menampung lalu tiba-tiba wadah itu pecah, apa yang kau rasakan? kecewa kah? marah kah? atau kau ingin segera mencari wadah baru yang lebih bagus, lebih indah tapi kau tak merasa nyaman di dalamnya? Tak bisa begitu saja, Sayang.

Senja mulai kita nikmati, tapi aku tidak tahu apa yang sebenarnya yang sedang kita nikmati. Aku enggan bisa meyakinkan apakah kau juga menikmatinya. Saat tangan masing-masing kita mulai memeluk tangan sendiri dengan mengepal-menggenggam sejuta kata yang belum tersampaikan oleh mulut yang masih bergemetar, mungkin juga kaku. Tubuh-tubuh itu hanya diam, ingin berbahasa tapi tak kuasa. Mata sanggup bicara tapi sayang itu tak bisa menjelaskan dengan terang apa yang sedang kau rahasiakan.

Di seberang taman, sepasang kekasih sedang menjadi tontonan kita, perihal yang hanya aku mimpikan saat itu.

Akhirnya…..

Terungkap juga kata yang bisu tadi, kau bilang, katamu langkah kita sudah tak saling mengerti, kaki-kaki kita hanya seperti air di daun talas yang tak punya arah. Tak bisa menentu mana yang harus dituju. Begitu kan, pelukan-pelukan kita belum sngngup menguatkan arah yang mana yang indah. Kau bilang itu dengan ketukan kaki seolah kau ingin segera pergi.

Sayang, hal-hal yang kau bicarakan itu membuatku kebingungan. Saat sang senja mulai meutup mataya, kamu malah ingin juga menginjakkan langkah menuju katup-katupnya. Lalu bagaimana dengan aku, seorang yang masih belum terlalu fasih dengan hal semacam ini. Sepotong langkah yang hilang dan aku harus berjalan sendiri. Sayang, tolong jangan membiarkan diri begitu saja.

Kepergianmu ini, beri tahu aku harus kemana?

Langkah-langkah Kaki Kita

November, aku ingin menulis cerita, dimana hanya kau yang tahu, cukup kau saja.

Ini, pagi yang masih menampakkan rupa dengan segala yang ia punya meski bahagianya mungkin datang terlambat pada kita. Aku masih seperti biasanya, duduk-duduk di atas kasur kamar. Jangan ditanya lagi ya. Aku senang membuatmu sedikit marah, karena itu cara indah untuk mendekatkan kita pada suatu yang rindu yang memerah.

Nissa,

Terima kasih, aku mulai mengerti bagaimana untuk membuat hati tenang, bagaimana perihal rindu bisa terselesaikan. Aku mulai bisa menyelesaikan persoalan waktu, bagaimana harusnya kita bertemu. Terima kasih, aku bahagia sambil mengingat kejadian yang kau paksa melupapun tak kan bisa. Rasanya seperti aku rindu membaca buku kita yang kita tulis dulu. Akupun tak bosan atau lelah membaca setiap ceritanya.

Tiga puluh november lalu, aku mengingat-ingat sampai hari ini apa saja kejadian yang belum tergenapi oleh kita. Mari kita genapkan dengan doa-doa yang menjaga aku-kau setiap waktu. Nissa. Sepotong roti selalu menjadi teman cerita bagaimana harus mengawali setiap pagi. Aku mulai mencintaimu sampai setiap remukannya aku menyukainya.

Jelek, begitu aku sering memanggilmu. Memberi sebut yang aku suka. Maaf ya. Apa kabar di usiamu yang baru ini? semoga kau bahagia ya. Semoga. Aku-kau masih setia pada langkah-langkah yang akan kita tuju sampai usai. Tapi semoga tak pernah usai, kecuali mati. Tangan-tangan kita masih setia merangkul cerita yang masih banyak rahasia yang belum kita ungkap. Mata-mata kita masih terlalu banyak menyimpan kata-kata sampai belum bisa terbaca semua. Mulut-mulut kita masih membungkam masih ego untuk bercerita segalanya.

Bagaimana aku bisa bilang mencintaimu? tak ada alasan kecuali pembuktian. Bagaimana bisa aku bilang menyayangimu? tak ada bedak aku tetap rasa. Katamu kau selalu ingin cantik, aku lebih suka natural tanpa dilebih-lebihkan. Cukup sederhana, sekadarnya seperti rindu kita yang jangan dilebihkan jika tak ingin kesakitan tapi nyatanya perihal rindu itu tak bisa disangkalkan.

Begini Nissa, aku tak akan mengirimimu tulisan ini sebelum tanggal dua-dua, aku hanya ingin cerita kita menjadi kesan di ulang hari kau terjun ke dunia ini untuk mengenal cinta.

Selamat panjang usiamu, jelek. Selamat kuliahnya, semangat.

Langkah kita masih panjang untuk diceritakan kepada orang-orang juga untuk dijalani kita sendiri. Semoga langkah tak pernah lelah.

SALAH KITA ATAU EGO

Teruntuk,

(semoga benar teman sejati)

Senja masih setia menjadi senja, pagi masih setia pada paginya. Mungkin hanya kita yang mulai berbeda, mulai ada yang ganjil di antara harap yang selama ini kita ucap. Waktu akan tetap waktu, akan berjalan sama, tidak lambat pun cepat. Tapi bagaimana dengan aku-kau. Langkahmu terlalu cepat dan aku terlalu lambat, Nyet. Mungkin seperti itu. Seperti kuda dan kura-kura. Kau tergesa-gesa dengan segala harap bisa menang duluan, tapi aku malah menikmati setiap adanya suatu perjuangan.

Baru saja kau bertambah angka hidupmu, selamat! Maaf tak ada yang bisa aku beri lebih kecuali harapan, pun untuk pertemanan. Syukur, kau dewasa! Tapi yang menakutkan pun menyedihkan adalah saat  kau berupaya melumpuh-dayakan ingatan–kenangan. Jika kau salahkan ingatan, maka sebaiknya kau pergi menjauh membuangnya ke sosok lain yang bisa menghapuskan. Bagaimana? Asal kau tahu, sebaik-baik kejahatan adalah mencuri ingatan membuatmu ingat kenangan tanpa memperdulikan apa yang terjadi sekarang, esok, atau lampau. Sebaik-baik kennagan adalah yang kau jaga dan rawat hingga ia tumbuh tak mati ditelan usiamu yang menua.

Aku tidak memilih apapun untuk sebuah pilihan yang tak ada pilihanku. Apa kau akan memaksa? Aku tidak akan berusaha melupa atau benar-benar lupa, sekali-duakali-tigakali-atau beribukali kau meminta. Bagaimana iya? aku saja tak tahu bagaimana caranya. Tapi jika aku tahu caranya. Aku tidak akan memberitahu itu kepada pikiranku untuk melakukannya.

Baru saja kau buka buku, lalu kau tutup dengan paksa sebelum aku menikmati ceritanya. Seperti kau meberi harapan tapi kau lalu menjatuhkan. Membuang lalu meninggalkan. Tapi katamu kita masih teman. Arrrgggggghhhh. Iya, di-iya-kan saja apa yang kau bicarakan. Aku sendiri benar-benar tahu atau hanya pura-pura, aku tak tahu. Begitu, pun persoalan kopi yang kau sesap, tapi kau tak menikmati ampas yang mengendap di dasar cangkir. Itu seperti kau membuang perasaan yang seharusnya wajib kau rasakan sekalipun kau tak mau merasakan. Juga selai nanas yang kau oles pada roti lalu kau makan bercabi-cabi. Habis, kau terlalu cepat menikmati, sampai kau ketagihan dan jika sudah puas kau pergi lalu meninggalkan.

pun pesan yang tak kau balas sepotong suratpun, seperti iya tapi hanya di-iya-kan. Juga di kedai, bersama tapi tak bicara seperti sendiri tapi bersama bayangan tapi kau sendiri ingin sekali mengajak bicara hanya terlalu takut saja.

Jalan pikiran-inginmu, aku mencoba mengerti. Mengikuti. Memahami. Lantas, akan bermuara kemana? semoga aku tak ditenggelamkan pada kesakitan. Ah aku terlalu berlebihan. Ya katamu. Tapi aku kira kau tahu jalan pikirku, kau yang menguasainya, sampai aku tunduk pada ingin-butuhmu apapun itu. Menerima iya atau terpaksa tetap kuterima, ikhlas tanpa ada yang ganjil yang harus disesalkan. Kau menjajah apa yang harusnya aku pertahankan. Tapi katanya teman, kenapa tidak? Atau aku yang terlalu bodoh? Iya.

Adalah egoku. Hah, aku? (hanya) aku? baiklah aku tahu. Sebenarnya egomu lebih menguasai otakmu dan otakku asal kau tahu. Ah mengapa diperjelas sampai kesitu, maaf aku membuatmu marah. Tapi….

Sepotong malam sudah habis semalam, kata-kalimat-paragaraf-cerita hanya diam-bisu dalam tiga per empatnya. Ada yang tak genap. Aku tahu. Mungkin kau juga. Bagaimana bisa begitu? salah kita atau bagaimana?

Maaf sudah membuatmu mencoba mengingat, aku hanya ingin kau tak lupa saja. Tidak ada kejahatan yang baik termasuk melupa, Teman.

Apa yang kau ingini? aku tahu aku mencoba memberi. Apa yang kuingini? kau mencoba menjadikan itu inginmu padahal bukan itu.

Friendship not friendshit

Maaf, maaf, maaf lalu maaf sampai maaf. Aku mengadah tanganku untuk minta maaf.

Raden Ajeng Kartini

Raden Kartini

 

Ajeng, di masa yang gelap engkau bangun

Menyulap sendiri lampu menjadi tungku

Cahaya sendiri sepertinya masih terlelap

Enggan memberi tahu keberadaannya

 

Ajeng, di masa pembangunan engkau turun

Tujuan hanya satu arah pandang

Kelopak menyorot enggan purun

Sampah sudah membudak di tusuk pedang

 

Ajeng, di depan kau sudah terbitkan

Berkobar, tak sebentar

Dan api sudah bahagia menjadi abu

Kau dalam serbuk-sebuk kelabu

 

Ajeng, di belakangmu sebuah belati menusuk tajam

Memaksamu harus berjalan

Tergores, kesakitan kau tetap tahan

Sebentar, satu langkah kau sampai tujuan

 

Ajeng, di kemerdekaan zaman kau pulang

Bunga sudah kembali tertawa

Burung sudah tak lagi risau

Sebab terang mulai berkicau